Sebuah Buku dan Secangkir Kopi

Sekitar 12 tahunan lalu, satu buku membuat saya tertegun ketika judulnya terbaca jelas di depan saya yaitu , Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian, tulisan Valentino Dinsi yang saya kayaknya baru dengar nama itu, hehehe.
Isinya cukup membuat kepala saya lebih penuh dan tampaknya jadi crowded, sedikit marah, galau dan khawatir karena membuat saya seperti di beri pertanyaan yang saya bingung menjawabnya : kemana saja kamu selama ini ? Tidak cukup sampai disana, pertanyaanya berlanjut : mau di bawa kemana hidupmu ?

Saya paham ( separo paham ), bahwa saya tidak boleh menjadi pekerja seumur hidup saya, dan harus mulai memikirkan bagaimana saya bisa berhenti menjadi karyawan dan memiliki usaha sendiri. Kok ada dalam kurung separo paham ?

Ya, saya sudah mulai mencoba beberapa jenis usaha kecil seperti jualan baju dari kos ke kos (jaman dulu belom ada OLShop ya, hape juga belom MP3 lagunya hahaha), buka persewaan PlayStation (yang setelah balik modal ternyata harus tutup karena dari 9 mesin, di curi 4 biji, lenyap 50persen dah), buka fotocopy dan rental DVD di kota lain kerjasama dengan teman (berakhir agak tragis karena jauhh dari pengawasan), dan juga nyicil second car untuk antar jemput anak sekolah yang malah habis uangnya untuk biaya perawatan mobil dan bayarin sopir.
Begitulah, saya dan istri terakhir membuka baby shop kecil dengan uang sewa 2 tahun yang akhirnya tidak kami perpanjang karena bukan hanya harus repot meladeni permintaan model baru (akibatnya model lama tidak terjual hampir 50persen selalu menjadi stok), tapi juga karena produk tidak repeat order membuat keuntungan memiliki jeda yang agak lama. Di tambah, kalau harus selalu ada di toko di akhir pekan atau Minggu, membuat kami merasa hidup dalam petak 4×6 penuh pakaian baby.

Pemahaman saya meningkat, satu buku lagi yang membuat saya lebih teliti untuk memilih sebuah bisnis, dan entah kenapa, secangkir kopi dari sebuah perusahaan bisnis jaringan menjadi pembuka bagi jenis bisnis baru yang saya jalani 8 tahun terakhir ini dan masih terus saya kerjakan.

Tentang kopi, tidak banyak yang saya bisa sebutkan jenis kopinya karena saya peminum kopi tapi bukan pelanglang buana pemburu kopi yang mungkin ratusan jenisnya. Bagi saya, kopi menjadi teman yang tidak pernah protes (saya sering ibaratkan dia seperi seorang teman), saya bisa berlama-lama duduk membaca atau menulis beberapa hal di hadapan secangkir kopi. Tempat juga bukan suatu tuntutan untuk melengkapi suasana tenang ketika bersama buku dan kopi, karena biasanya saya membawa mereka berdua kemana saja saya pergi. Tetapi seingat saya, saya merasa lebih nyaman berada di tepi danau, atau di sebelah depan gunung yang ada di kota tercinta saya, beberapa kali saya merasa ‘hanyut’ ketika membaca buku di atas batu di sungai besar di kota saya ( kota saya adalah kota kecil cantik penuh dengan tatanan alam seperti sungai, gunung, danau, bukit dengan pemandangan asri yang memikat, Wonosobo namanya.

Buku berikutnya menjadi serial pelengkap bisnis saya, walaupun saya tidak berada di sekolah formal tentang bisnis dan orang tua saya juga bukan pendorong untuk saya menjadi seorang pengusaha, tapi buku buku memang menjadi guru pribadi bagi saya, lalu kemudian saya ketemu beberapa mentor bisnis yang luar biasa di perjalanan perjalanan berikutnya.

Sebuah buku, dan secangkir kopi, seperti yang pernah saya baca dan terjadi, dan masih terus akan terjadi : Today you are READER, tomorrow become LEADER.

Semoga, kita semua menjaga kemauan dan kesukaan untuk membaca buku (mungkin anda lebih suka di temani teh atau jus), karena otak kita akan terasah dengan membaca, dan bukankah itu sebuah penghematan besar ??
Apa maksudnya penghematan besar dengan membaca buku ? Orang-orang sukses, cukup murah hati untuk memberitahu kisah sukses, perjalanan jatuh bangun, kesalahan dan kegagalan serta hal yang seharusnya di lalukan agar kita bisa lebih sukses dari mereka karena pelajaran hidup yang mereka tuangkan dalam sebuah buku, yang kalau kita mau membacanya, kemungkinannya adalah kita luput dari kesalahan, atau maju lebih cepat dengan arahan yang benar.

Bukankah (bagi anda yang sudah cukup usia, di atas 35 tahun dan belum begitu berhasil), sekarang saatnya mencari penghasilan, bukan sekedar mencari pengalaman karena usia kita yang menua dan agak melambat ?

Salam 100 juta
Dhani L

Share this post

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.